Ida Dalam Ketut Ngelusir atau Sri Smara Kepakisan jadi raja Bali, di tahun 1383-1458.




Yang berpuri di Swecapura atau Gelgel.


Awalnya, sesudah memerintah kurang lebih sepanjang tiga tahun, Ida Dalam Samplangan pada akhirnya turun tahta.


Hal tersebut, karena tidak ada support dari beberapa pengabih atau patihnya.


Karena dipandang tidak perhatian, dan lamban mengurusi pemerintah.


Dan selalu suka lama-lama bersolek.



Diceritakan dari sumber Babad Pamancangah Satriya Dalam.


Di suatu ketika berada sebuah gagasan, dengan diselenggarakannya paruman.


Tetapi sampai siang si prabu belum tiba ke balai paseban.



Hingga beberapa patih Situs Slot dan Kriyan Klapodyana benar-benar sedih. Hingga kemudian tinggalkan paseban.


Lalu bermufakat menukar Ida Dalam Samplangan dari puncak pimpinan kerajaan.


Pada kondisi genting itu, diperkirakan Dalam Tarukan untuk gantikan status kakaknya (Dalam Samplangan) sebagai raja.


Tetapi sayang, Dalam Tarukan tidak dikenali kehadirannya.


Karena kabarnya lebih suka bertani dan cari kesucian.


Pada akhirnya dicarilah Ida Dalam Ketut Ngelusir yang berlanjut ayam di Dusun Pandak (Tabanan).


Sebenarnya, Dalam Ketut Ngelusir pun tidak siap, karena sangsi dengan kekuatannya.


Tapi karena dipaksa, dan tidak ada alternatif lain. Karena adiknya Dewa Tegal Besung masih kecil.


Pada akhirnya Ida Dalam Ketut Ngelusir penuhi permintaan beberapa patihnya.


Karena menghindar beberapa hal yang tidak diharapkan menerpa kerajaan.


Supaya tidak mengganggu status pemerintah kakaknya di Samplangan.


Karena itu oleh beberapa mantrinya. Pusat pemerintah dipindah ke Gelgel.


Terjadi pergantian kepimpinan dari Keraton Samplangan ke Keraton Gelgel atau Arsha Pura.


Ini tanpa pergolakan dan jalan nyaman dan aman.


Seterusnya pusat kerajaan Bali, semenjak waktu itu beralih dan terpusat di Swecapura Gelgel, Klungkung.


Dengan rajanya ialah I Dalam Ketut Ngelusir yang bertitel Dalam Sri Smara Kepakisan.


Beristri Dewi Danu dari Batur, si raja mempunyai putra namanya Ida Batara Dalam Waturenggong atau Sri Jaya Kepakisan.


Dalam Waturenggong, jadi salah satu raja yang tersohor di Bali.


Dia pimpin di tahun 1460 sampai 1550. Dan berpuri di Swecapura atau Gelgel.


Dalam pemerintah Ida Dalam Waturenggong, yang maha patihnya Kyai Batan Jeruk.


Jadi periode keemasan dan kemasyhuran kerajaan Bali.


Di mana peluasan daerah sampai ke Jawa, Sulawesi, dan Sunda Kecil. Dan lain-lain.


Di saat itu, kehadirannya ditemani Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh. Melakukan paksakan Siwa.


Dan Danghyang Astapaka dengan Paksakan Budanya.


Di saat itu, pertama kalinya dikerjakan upacara Eka Dada Rudra di Pura Besakih.


Dengan pamucuk atau pamutus yadnya Ida Batara Dalam.


Dan pamuput yadnya ialah Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh.


Sesudah beberapa lama, pada akhirnya Ida Dalam lalu mabersih atau madiksa.


Dan tidak mau kembali aktif di pemerintah lalu beliau meninggal dunia.


Saat diupacarai atau dipalebonkan, dengan menggunakan naga banda (pertama di Bali).


Karena ada panduan dari Danghyang Astapaka, saat kasidhiannya dites oleh Dalam.


Saat sebelum jadi bagawantanya.


Selanjutnya menukarnya ialah Ida Dalam Pemayun atau Dalam Bekung.



Ida Dalam Waturenggong banyak memiliki istri. Beliau memiliki empat anak.


Salah satunya, Ida Dalam Anom Pemayun atau Dalam Bekung.


Ida Dalam Anom Sagening atau Dalam Sigening. I


da Dewa Ayu Laksmi dan anak ke-4 ialah Dewa Ularan.


Anak ke-5 Angga Tirta, anak ke enam Ki Tubuana, anak ke-7 Dewa A. Istri Manik. (